May 1, 2013

that loneliness

Kakek (dari pihak ibu) saya seorang perokok, tapi suatu ketika saat saya SD beliau bertekad untuk berhenti, kemudian mulai mengkonsumsi permen jahe sebagai peengganti rokok yang selama ini menemaninya, disamping nenek saya tentunya.

Sekitar semester 3, kakek dan nenek mulai tinggal satu atap dengan saya dan ayah ibu. Kakek bilang ia ingin mulai hidup nomaden, dari rumah anaknya yang satu ke rumah anak yang lain. Dan rumah pertama yang ia inginkan untuk tinggal adalah rumah kedua orang tua saya, saya pribadi tentunya merasa senang karena bertambah dua teman di rumah, xixixi. apalagi kalau pas momen nonton bola, yahh seperti orang umum yang nonton tivi kebanyakanlah. apalagi kalau channelnya bola. Ibu saya melipir ~ seakan sudah settingan default bahwasanya kami bertiga: saya, ayah dan kakek, akan duduk teratur di depan televisi, kadang kami juga suka bersantai bersama, menikmati kudapan kecil, kakek paling suka roti dicelup teh manis hangat. kadang bersantai.

Kemudian kakek bilang dia ingin tinggal bersama adik Ibu, alias bulik saya. okelah semua setuju. toh, dari awal niat kedua kakek nenek saya adalah ingin hidup nomaden, bosan katanya kalo hanya di rumah, capek menanti yang datang dan tak pernah berpergian...

Selang seminggu, Kakek masuk rumah sakit; RS Dr. Moewardi. 2hari dirawat di RS, Ibu saya baru sempat berkunjung ke RS... dan mungkin sudah suratan yang di atas. Setelah melihat Ibu Saya, Kakek Saya menghembuskan nafasnya yang terakhir..Kalau kata orang jawa "ngenteni". ah itulah pokoknya..
 
Saat hari itu, saya sedang persiapan presentasi final project salah satu mata kuliah. Ibu menelpon, tapi tidak saya angkat. Ibu menelpon lagi, saya merasa ada sesuatu yang tak biasa, akhirnya saya angkat. Awalnya saya kira itu bukan suara Ibu, parau sekali, perlahan ia bilang saya harus cepat pulang, nanti akan di jemput ayah di tempat biasa di dekat rumah, kakek telah tiada, beliau telah berpergi.. Saya mengiyakan pinta Ibu, tapi ijin agak terlambat karena kebetulan 5menit lagi saya akan maju presentasi bersama kelompok saya, setelah itu kalian sholat dhuhur dulu pikir saya. Ibu setuju, Telpon saya tutup, nama kelompok kami tersebut. Presentasi berjalan seperti apa adanya dan berlangsung sekitar satu jam. Kemudian bergegas saya ijin pada Ibu Dosen untuk pulang duluan, karena kakek saya meninggal. Seingat saya saat itu saya tidak sempat memberi tahu teman sekelas saya, yang mereka tahu, saya ijin pulang duluan.

Turun dari ruang puskom, saya putuskan untuk sholat dhuhur di mushola putri gedung B. Saya merasa detik-detik saat itu terasa sama dengan detik-detik hari sebelumnya, Mengambil wudhu, kemudian sholat berjamaah dengan yang lainnya, saat itu diimami oleh mbak illu, saya disamping kanannya. Barulah saat sholat, entah kenapa saya merasa saat itu benar-benar sangat damai sekaligus saat-saat yang mencekat tenggorokan saya, tak sadar saya terisak, saya kira hanya saya saja yang mendengar tangis sesenggukan saya sendiri, tapi tiba-tiba mbak illu membelai saya, lembut sekali. Tanpa kata, hanya membelai, sesenggukan saya mulai bernada agak tinggi. Cukup membuat samping kanan saya menoleh, Saya melihatnya sesaat tapi saya tidak mau tahu saat itu, cuman pengen belaian mbak illu terus. Sesaat kemudian saya merasa, is okay, I’m fine. Saya melangkah meninggalkan mushola melangkah menuju sekre di dekat kopma. Saya dapati beberapa orang disana, tapi sepertinya mulut tak ingin membicarakan kondisi saya saat itu, saya jadi bingung, lalu kenapa harus kesitu kalo tidak bisa ngomong apa-apa. Akhirnya saya putuskan untuk pulang saja, kasihan ayah kalau menunggu terlalu lama.

Saat itu saya belum mengendarai sepeda motor untuk sarana transportasi ke kampus, jadi saya berjalan saja, melipir di pinggir jalan mengikuti arus. Sambil berpura-pura bahwa perjalan pulang saya kali ini seperti perjalanan pulang seperti hari-hari yang lalu. Aneh aja kan ? kalau saya menangis sambil jalan di sepanjang jalanan dari fakultas mipa ke boulevard depan?. Pemandangan macam apa itu heuheu tapi airmata tidak kalah keras kepala dengan yang empunya, ia tetap jatuh tapi bedanya tidak diiringi sesenggukan. “gag papa, nangis aja sekarang. Daripada ntar nangis di bus, tambah aneh malah” kata hati saya.

Sampailah saya di bus, sambil mencet-mencet hidung dan ngelap-ngelap bekas air mata mencoba menetralkan suasana, mencoba manage mimik muka biar tidak kelihatan kalau habis nangis. Alhasil alternatif yang saya pilih adalah memalingkan muka kea rah jendela, berpura-pura tidur agar tak harus menyapa penampang bus yang di duduk di sebelah saya. Mian haeyo, but I didn’t know what I have to do that time.. Turun dari bus, saya sudah melihat sosok Ayah yang mencoba tegar, aku juga harus bisa. Ayah tak pernah melihat sosok Ayahnya sejak lahir, Kakek dari pihak Ayah, Sudah meninggal sejak Ayah berusia tujuh bulan dikandungan nenek. Jadi ini bukan yang pertama bagi Ayah, untuk kehilangan Ayah.

Sampai di rumah bulik, Ayah langsung mengambil langkah bergegas membantuk Pak dhe dan Pak Lik serta tetangga sekitar untuk menyiapkan peralatan memandikan kakek, dst. Sedang Saya hanya berjalan saja menuju kumpulan para pelayat, menyalami mereka, sambil sesekali tersenyum menjawab ketika mereka bertanya apakah saya cucu kakek. Saya tak punya banyak kata saat itu, Hanya mampu menjawab dengan kata seadanya ketika ada yang bertanya. Budhe Tatik saya memeluk erat saya, Saat itu saya sadar bahwa saya begitu terguncang, karena tak mampu membalas erat pelukannya. Kemudian saya memilih duduk mengambil jarak dengan sanak saudara yang lain. Hanya mampu menyibukkan jemari untuk mengetik pesan singkat ke beberapa teman terdekat.

Sekitar jam 14:00 waktu setempat, Budhe Tatik memanggil saya untuk berdiri merapat di depan rumah dengan sanak saudara yang lain. beberapa menit kemudian terlihatlah dari kejauhan mobil ambulans yang membawa jenazah kakek. Setibanya mobil ambulans dibuka, Para bapak-bapak berbondong membawa keranda, saya melihat Ibu, Ia Nampak sangat terpukul, menangis mengikuti rombongan pembawa keranda, Ia bahkan tak menyadari saya berdiri hanya beberapa meter saja darinya, Lalu Pandangan teralih kea rah tangisan pecah nenek, Pak Lik Sugeng dengan cepat meraih nenek saya, menggendongnya masuk ke rumah. Nenek terus berteriak agar kakek cepat kembali hidup. It is must be so hard for her. Really hard. Budhe Tatik yang tadinya disamping saya, sekarang telah larut dalam rombongan masuk ke dalam rumah. Saya juga ingin masuk ke rumah, tapi kaki mendadak kaku, Saya hanya bisa duduk, di halaman rumah.
 
Sesudah jenazah kakek dimandikan, Ibu memanggil saya masuk. Ibu berbasa-basi, bertanya bagaimana perjalanan saya pulang, apakah ayah menjemput tepat waktu. Saya juga hanya bisa tersenyum. Menjawab dengan nada biasa, Saya harus tegar.

Satu per satu sanak keluarga mencium kakek bergantian. Saya tak berani, Hanya duduk di dekat kaki kakek, menatap lekat wajahnya. Sambil berdo’a pada Allah SWT yang Maha Pemilik Hidup untuk menjaga kakek. “Kakek, jadi sekarang kakek akan berpergian sendirian, Kakek jaga kesehatan ya.”

0 komentar:

Post a Comment

jangan lupa ninggalin jejak ya ^.^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...