March 20, 2013

Pagi Mentari

Hari sebelumnya dia sudah meminta ijin pada Bunda, ia ingin pergi pagi-pagi sekali ke kampus. Ia bilang tak sabar menyapa hangat teman-temannya seperti biasa, padahal baru beberapa jam mereka terpisah. Meski dapat bertemu di dunia maya, tak ada yang huruf ataupun karakter yang tepat yang dapat menggantikan kebahagiaan melihat senyuman. :)

Pagi datang, suara salam dari luar rumah membuatnya matanya terbuka perlahan. 05:45, bukankah terlalu pagi untuk bertamu. Terdengar suara Bunda menyambut sang tamu ramah, membukakan pintu pagar depan rumah. Dari balik selimut dan juga mals-malasan Ia mencoba mendengar percakapan antara Bunda dan Sang Tamu, nampaknya ada keperluan bisnis yang mendesak, karena Sang Tamu merupakan salah seorang yang mempunyai jam terbang tinggi di daerah kami.

"Kug kamu engga jadi ngelamar anaknya Pak Dzuki tho le?" Tanya Bunda akrab kepada sang Tamu yang tak lain adalah Mas Awan. Bunda sudah lama sekali menganggapnya sebagai anak laki-lakinya. Bukan kali pertama ini Bunda bertanya tentang kapan ia  akan menggenapkan setengah Dien-nya. Mas Awan memang sangat lugu. Dulu dia berdalih ingin memiliki kontrakan dulu, supaya istrinya bisa nyaman untuk sementara. Kemudian ia berdalih lagi ingin membeli sepeda motor dulu, supaya nanti enak kalau istrinya mau ngaji atau ada keperluan kemana-mana. hahahaha Bunda selalu berhasil dibuatnya geleng-geleng.

"Ya bagaimana Bun? Kalau bukan jodohnya ya harus gimana lagi? Sebenarnya para tetangganya mensupport saya untuk melamar anaknya Pak Dzuki. Tapi kug rasanya kayak engga ada kemauan yang kuat. Sebenarnya ya saya mau cepet-cepet nikah. hehehe" Alasannya pagi ini. Yang masih di balik selimut pun ikut tertawa kecil. ahh sepagi ini, bahkan perihal pernikahan sudah menjadi oksigen di udara.

"Tapi untungnya mbaknya engga jadi dapat Saya Bun, mbaknya pantas dapat yang lebih baik." Imbuh Mas Awan. "Loh kug gitu?" Tanya Bunda. "Suaminya mbaknya itu dulu teman se-asrama Saya Bun, joss lah orangnya" Jawab Mas Awan.

Dan yang dibalik selimut sepertinya sudah tak tertarik lagi dengan pembicaraan yang ada di ruang tamu. Ia menarik selimut hangatnya, memejamkan matanya lagi. Memutuskan untuk menunda sejenak melihat senyuman-senyuman yang terukir di pagi hari. Pagi Mentari, Selamat melepas kerinduan dengan Bumi.

2 comments:

jangan lupa ninggalin jejak ya ^.^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...